AI vs Web Developer
Belakangan ini, setiap kali saya membuka LinkedIn atau
Twitter (X), pembicaraannya selalu sama, "Apakah AI bakal menggantikan
programmer?".
Jujur saja, sebagai orang yang berkecimpung di dunia web
development, ada perasaan campur aduk saat melihat betapa cepatnya alat seperti
ChatGPT, GitHub Copilot, atau Cursor berkembang. Rasanya baru kemarin kita
belajar centering a div, sekarang tiba-tiba ada mesin yang bisa
membuat satu halaman landing page hanya dengan satu kalimat perintah.
Jadi, buat kamu yang baru mau belajar coding atau yang sudah
senior dan mulai merasa cemas, mari kita duduk bareng. Kita akan bedah secara
jujur, apakah AI adalah akhir dari karier kita, atau justru asisten terbaik
yang pernah ada?
1. Evolusi, Bukan Invasi
Mari kita mundur sejenak. Ketakutan akan teknologi baru
menggantikan manusia itu bukan barang baru. Dulu, ketika WordPress muncul,
banyak orang bilang "Web developer bakal mati karena semua orang bisa
bikin web sendiri." Nyatanya? Permintaan untuk developer kustom justru
melonjak.
AI saat ini berada di posisi yang sama. AI bukanlah
"penjajah" yang datang untuk merebut keyboard kita, melainkan
sebuah evolusi alat (tooling).
Dulu kita menulis kode secara manual di Notepad. Lalu kita
punya IDE yang canggih dengan autocomplete. Sekarang, kita punya AI
yang bisa memberikan saran logika secara utuh. Ini adalah lompatan besar dalam
produktivitas, bukan penggantian peran secara total.
2. Di Mana AI Menang Telak?
Kita harus akui, AI sangat hebat dalam melakukan tugas-tugas
yang membosankan dan berulang (boilerplate).
- Menulis
Kode Boilerplate
Membuat struktur dasar HTML, CSS
Reset, atau skema database sederhana bisa dilakukan AI dalam hitungan detik.
- Unit
Testing
Jujur saja, siapa yang suka
menulis test case berjam-jam? AI bisa melakukannya dengan sangat teliti.
- Debugging
Cepat
Menemukan syntax error atau
tanda kurung yang kurang seringkali lebih cepat dilakukan oleh AI daripada mata
manusia yang sudah mengantuk.
Dengan AI menangani hal-hal teknis yang "remeh"
ini, kita sebagai developer punya lebih banyak waktu untuk fokus pada hal yang
lebih penting, yaitu Arsitektur dan User Experience.
3. Mengapa AI (Belum) Bisa Menggantikan Manusia?
Meski AI terlihat jenius, dia punya batasan besar yang
sering dilupakan orang awam.
A. Konteks Bisnis dan Empati
AI tidak tahu kenapa sebuah fitur dibuat.
Ia tidak bisa duduk dalam rapat dengan klien, merasakan keresahan mereka, dan
menerjemahkan visi bisnis yang abstrak menjadi solusi teknis yang tepat. AI
bisa menulis kode, tapi ia tidak tahu cara membangun produk yang dicintai
pengguna.
B. Arsitektur Sistem yang Kompleks
Membuat fungsi sederhana itu mudah bagi AI. Tapi menyusun
sistem skala besar yang harus terintegrasi dengan berbagai API pihak ketiga,
menjaga keamanan data, dan memastikan skalabilitas? Itu butuh pemikiran
strategis manusia. AI seringkali memberikan kode yang "terlihat
benar" tapi secara logika sistemik bisa hancur jika digabungkan dalam
skala besar.
C. Masalah Halusinasi
AI terkadang "berhalusinasi". Ia bisa memberikan
saran library yang tidak eksis atau metode yang sudah deprecated (ketinggalan
zaman). Di sinilah peran kita sebagai "Editor-in-Chief". Kita tidak
lagi hanya menjadi coder, tapi menjadi reviewer yang
memastikan kualitas dan keamanan kode tersebut.
4. Pergeseran Paradigma Dari "Coder" Menjadi "Problem Solver"
Jika kamu hanya mendefinisikan dirimu sebagai seseorang yang
"mengetik kode", maka ya, posisi kamu terancam. Tapi jika kamu adalah
seorang Problem Solver, AI adalah senjata nuklir di tanganmu.
Di masa depan, batas antara "Junior" dan
"Senior" mungkin bukan lagi soal seberapa cepat kamu menghafal
sintaks, tapi seberapa efektif kamu memberikan perintah (prompting) dan
seberapa tajam kemampuanmu dalam meninjau hasil kerja AI.
"AI tidak akan menggantikan web developer, tetapi
developer yang menggunakan AI akan menggantikan developer yang tidak
menggunakannya."
5. Tips Bertahan dan Menang di Era AI
Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Jangan melawan
arusnya, tapi belajarlah cara mengendalikan ombaknya.
- Kuasai
Fundamental
Jangan malas belajar dasar
JavaScript atau struktur data hanya karena ada AI. Tanpa dasar yang kuat, kamu
tidak akan tahu kalau AI memberimu kode yang buruk.
- Pelajari
AI Tooling
Mulailah gunakan GitHub Copilot
atau Cursor dalam alur kerja harianmu. Cari tahu di mana mereka membantu dan di
mana mereka gagal.
- Fokus
pada Soft Skills
Kemampuan komunikasi, manajemen
proyek, dan pemahaman produk akan menjadi jauh lebih mahal harganya daripada
sekadar menulis fungsi if-else.
- Spesialisasi
Jadilah ahli di bidang yang butuh
presisi tinggi dan pemahaman mendalam, seperti Cybersecurity, Performance
Optimization, atau Cloud Infrastructure.
AI itu Teman, Bukan Lawan
Jadi, apakah AI bakal menggantikan kita? Jawaban saya Tidak
secara total, tapi ia akan mengubah cara kita bekerja selamanya.
AI adalah asisten terbaik yang bisa kita miliki. Ia seperti
memiliki asisten jenius yang bekerja 24 jam tanpa kopi, tapi tetap butuh arahan
dari kita sebagai "otak" utamanya. Web development tidak sedang mati,
ia sedang berevolusi menjadi sesuatu yang lebih cepat, lebih efisien, dan lebih
seru.
Jangan takut pada masa depan. Mari kita manfaatkan teknologi
ini untuk membangun aplikasi-aplikasi luar biasa yang sebelumnya hanya ada
dalam imajinasi kita.
Bagaimana menurut kamu? Apakah kamu sudah mulai merasa
terbantu dengan kehadiran AI dalam pekerjaanmu, atau justru merasa terancam?
Tulis pendapatmu di kolom komentar, ya!

0 Komentar
Tuliskan Komentar anda di sini